20 Karya Program ILPN 2023 Resmi Dirilis

20 Karya Program ILPN 2023 Resmi Dirilis
Foto ; istimewa

JAKARTAINSIGHT.com | Perpustakaan Nasional (Perpusnas) menerbitkan sebanyak 20 buku hasil karya program Inkubator Literasi Pustaka Nasional (ILPN) tahun 2023.

ILPN merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh Sub Kelompok Penerbitan Perpusnas melalui Perpusnas Press yang berlangsung sejak 2020. 

Pada 2023, ILPN berlangsung di 20 lokus dan menghasilkan 20 judul buku dengan kearifan lokal yakni Maambun Pupur Kearifan Banjar Bakula, Kisah-Kisah yang Belum Dijumput dari karya penulis ILPN Kalimantan Selatan, Kearifan Budaya Masyarakat Jawa Barat karya penulis ILPN Jawa Barat, Gorontalo Merajut Tradisi dan Menyulam Kearifan hasil karya penulis ILPN Gorontalo, Merawat Ingatan Leluhur: Kearifan Lokal dari Tanah Lombok karya dari penulis ILPN Lombok.

Kaulinan karya penulis ILPN Ciamis, Jejak Pena Negeri Seribu Megalit hasil karya penulis Sulawesi Tengah, Membangun Lampung dengan Kearifan Lokal karya penulis ILPN Lampung, Eksplorasi Kearifan Lokal: Cerita, Budaya, dan Wisata di Balikpapan hasil karya penulis ILPN Balikpapan.

Pulung Wahyu Mataram di Gunung Kidul karya penulis ILPN Gunung Kidul, Menggali Potensi Wonogiri, Menguatkan Jatidiri hasil karya penulis ILPN Wonogiri, Syair Gurindam Syiar Literasi Indonesia karya penulis ILPN Tanjung Pinang, Ketika Luwu Tanpa Titik dari hasil karya penulis ILPN RBA Sulawesi Selatan.

Bakaroh hasil karya penulis ILPN Riau, Jejak Semar di Karang Pletak karya penulis ILPN Mojokerto, Jejak Maluku Utara untuk Indonesia hasil karya penulis ILPN Maluku Utara, Menyemai Tradisi Bumi Mageti karya penulis ILPN Magetan, Dari Humbang Hasundutan untuk Indonesia karya penulis ILPN Humbang Hasundutan, Ragam Etnik di Bumi Tapanuli hasil karya penulis ILPN Sibolga, Pangan Lokal Alternatif di Sekarkijang karya penulis IPLN BI Jember, serta Budaya dan Kearifan Lokal Bangka Selatan hasil karya penulis ILPN Bangka Selatan.

Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Perpusnas E. Aminudin Azis menyatakan, inkubator digambarkan sebagai sebuah wahana pendampingan bagi masyarakat yang memulai perjalanan literasi, baik sebagai penulis maupun pegiat literasi. Karenanya, dalam inkubator literasi seharusnya dilakukan pendampingan bagi mereka agar menjadi ahli literasi, penulis, ataupun pendamping kegiatan literasi.

 

“Bagaimana cara memberikan dorongan kepada masyarakat yang mau bergerak dalam bidang literasi, pokoknya apapun yang terkait dengan literasi itu adanya di sini," ungkapnya dalam peluncuran buku ILPN yang dirangkaikan dengan gelar wicara Penguatan Ekosistem Penulisan di Daerah yang diselenggarakan secara hibrida, pada Kamis (30/5/2024).

 

Plt. Kepala Perpusnas mengatakan pentingnya konsistensi antara niat, pemikiran, dan tindakan dalam menjalankan program ini. Selain itu, kualitas dari karya yang dihasilkan perlu diperhatikan dengan peninjauan yang cermat untuk memastikan karya tersebut tidak menyesatkan.

 

"Pertanggungjawaban bukan hanya selesai saat kegiatan selesai, tetapi juga terhadap martabat buku ini. Buku ini harus memiliki kualitas yang baik karena akan dilihat sebagai cerminan dari proses panjang yang telah dilalui," imbuhnya.

 

Lebih lanjut, dia menyampaikan program ILPN perlu menjaga koherensi dan ragam isi buku yang dihasilkan. Dia menekankan bahwa buku-buku tersebut tidak hanya berisi laporan atau reportase, tetapi juga harus menawarkan pemikiran baru yang mendalam. Terutama berkaitan dengan tema kearifan lokal yang diangkat dalam buku terbaru.

 

"Saya melihat ini sebagai sebuah perluasan makna dari kata inkubator. Tidak hanya mewadahi orang-orang yang baru menetas, tetapi juga menangkap gagasan-gagasan baru yang lebih mendalam," jelasnya.

 

Dia juga mengingatkan pendampingan tidak boleh berhenti setelah buku diterbitkan, tetapi harus dilakukan secara keberlanjutan untuk memastikan para penulis berkembang.

 

Selain peluncuran buku, diselenggarakan gelar wicara Penguatan Ekosistem Penulisan di Daerah dengan tema “Kearifan Lokal untuk Warisan Masa Depan”. Sekretaris Utama (Sestama) Perpusnas Joko Santoso menyampaikan ILPN merupakan terobosan penting dalam mengatasi persoalan kebutuhan dan ketersebaran bahan bacaan. 

 

Dia mengungkapkan berdasarkan riset Perpusnas tahun lalu, ketercukupan koleksi bahan perpustakaan hanya mencapai 32,03 persen. "Artinya, satu bahan bacaan harus ditunggu oleh lebih dari 32 orang. Kekurangannya hampir 70 persen jika kita menggunakan standar IFLA," ungkapnya.

 

Menurutnya, kebutuhan bahan bacaan belum tercukupi dikarenakan kurangnya produksi bahan bacaan dan kendala distribusi. Tahun ini, jelasnya, Perpusnas mendistribusikan 10 juta buku ke perpustakaan desa dan taman bacaan masyarakat (TBM) untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

 

"Kami tidak hanya memberikan bantuan buku, tetapi juga mengadakan pelatihan bagi pengelola perpustakaan desa dan TBM agar buku-buku tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal," katanya.

 

Program ini juga melibatkan kegiatan yang mendorong minat baca sejak dini, terutama untuk anak PAUD dan SD. "Kami berharap dengan adanya buku-buku bermutu, generasi muda dapat tumbuh dengan semangat membaca dan mencintai literasi sejak dini," terangnya.

 

Penulis dan pegiat literasi Maman Suherman berharap ILPN menjadi langkah awal dalam legalisasi dan pengakuan yang lebih baik terhadap karya penulis daerah.

 

"Indonesia memiliki potensi besar dalam bidang penulisan. Kita butuh lebih banyak penulis dan buku yang beragam untuk mencerminkan kekayaan budaya kita," ujarnya.

 

Pria yang akrab disapa Kang Maman ini mengatakan pendokumentasian kearifan lokal dalam bentuk tulisan perlu dilakukan. Menurutnya, penulis lokal harus didorong untuk menggali dan menulis tentang kebudayaan di daerahnya.

 

“Dengan program inkubator ini, kita mendorong orang-orang di daerah untuk menggali kebudayaannya. Hal ini sangat penting agar budaya kita tidak hanya dikenal melalui tulisan orang asing,” lanjutnya.

 

Sementara itu, pendiri dan Presiden Rumah Produktif Indonesia Yanuardi Syukur mengatakan buku-buku hasil karya penulis daerah perlu diterjemahkan ke bahasa Inggris dan dipamerkan di acara internasional seperti Frankfurt Book Fair.

"Ini akan membantu mengenalkan budaya dan kearifan lokal kita kepada dunia," katanya.

Dia menjelaskan observasi dan riset penting dilakukan sebagai dasar kepenulisan. "Dengan begitu, kita bisa menghasilkan karya yang kaya akan informasi dan nilai sejarah," ungkapnya.

Kolaborator Inkubator Literasi Provinsi Riau yang merupakan pendiri Rumah Kreatif eSCeWe Siti Salmah menjelaskan program ILPN telah memberikan warna baru bagi dunia literasi di Riau. Sebelumnya, kegiatan literasi di Riau lebih fokus kepada kegiatan perlombaan.

"Inkubator literasi ini berbeda karena melibatkan proses kurasi naskah, workshop, dan pembinaan berkelanjutan," ujar Siti. 

Menurutnya, pembinaan yang intensif inilah yang menjadi pembeda utama dari kegiatan literasi lain. Hingga saat ini, pembinaan dan diskusi terkait literasi masih berlangsung aktif, meskipun program resmi sudah selesai.

"Saya berharap agar program di masa mendatang lebih fokus pada pustakawan, agar mereka bisa menjadi tenaga pengajar yang terampil dalam literasi dan dapat memberikan pendampingan di sekolah-sekolah," harapnya.

Pada 2024, penyelenggaraan ILPN dilaksanakan di sepuluh lokus yakni Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu, Banten, Blitar, Sulawesi Utara, Maluku, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, dan Pengurus Forum TBM.

Editor:Mika Syagi
Asian Games || jakartainsight.com
BUMN || jakartainsight.com