Mundurnya Inggris dari Uni Eropa jadi Angin Segar Bitcoin dkk

Mundurnya Inggris dari Uni Eropa jadi Angin Segar Bitcoin dkk

Ilustrasi gambar (istimewa)

JAKARTAINSIGHT.com | Keputusan resmi keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit = British Exit) pada awal Februari 2020 sudah tentu berpengaruh terhadap sejumlah industri, salah satunya yakni terhadap industri blockchain crypto. Seperti apakah pengaruh dari Brexit terhadap nilai mata uang digital tersebut? simak penjelasannya berikut ini.

Salah satu pakar blockchain di tanah air, yakni Oscar Darmawan berpendapat, keluarnya Inggris dari UE tersebut rupanya menjadi angin segar bagi para pelaku industri bitcoin dkk. 

"Ini membuat negara tersebut lebih leluasa dalam membuat kebijakan-kebijakan baru. Salah satu kebijakannya adalah merustrukturisasi biaya pendaftaran untuk perusahaan crypto sehingga biaya pendaftaran menjadi berkurang," ungkap Oscar melalui sambungan ponsel, Sabtu (8/2).

"Jika melihat situasi tersebut ditambah Bitcoin sedang mau halving, ini menjadi momentum yang menarik pada tahun ini."

Baca juga : Oscar Darmawan : Berdasarkan Tren, Nilai Bitcoin Umumnya Melonjak Pesat Pasca Halving Day

Oscar yang juga merupakan CEO Indodax (perusahaan start-up berbasis Blockchain terbesar di Asia Tenggara) menyampaikan, Sebelumnya, Inggris lewat The UK Financial Conduct Authority (FCA) merencanakan biaya pendaftaran sebesar 5.000 poundsterling untuk semua bisnis. Namun, dengan adanya desakan dari para investor, Inggris melakukan restrukturisasi. 

"Restrukturisasi ini sudah dimulai pada beberapa waktu lalu. Adapun bisnis crypto dengan pendapatan 250.000 poundsterling atau setara Rp4,4 miliar akan membayar pendaftaran 2.000 poundsterling saja atau Rp35 juta. Sedangkan perusahaan besar lebih dari 250.000 pounds akan dikenakan biaya pendaftaran 10.000 pound atau Rp178 juta saja," ujarnya.

Hal tersebut menurut Oscar dengan adanya kebijakan di Inggris tersebut, maka, akan mendorong terciptanya perusahaan-perusahaan crypto kecil untuk lebih berkembang. Sehingga hal tersebut akan menimbulkan demand yang tinggi, sementara supply crypto masih terbatas.

Sebaliknya, kondisi tersebut berbeda dengan kondisi di negara-negara Uni Eropa. Perusahaan crypto di Uni Eropa akan menghadapi peraturan yang lebih ketat dimana Uni Eropa lebih mewaspadai adanya money laundering seperti yang ditemukan di Fifth Anti-Money Laundering Directive (5AMLD). Namun, meski demikian, masih ada negara di Eropa yang tengah melirik crypto, misalnya Swedia. 

 

Editor:Mika Syagi
Asian Games || jakartainsight.com
BUMN || jakartainsight.com