Pilih Mundur, Inggris Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Uni Eropa

Pilih Mundur, Inggris Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Uni Eropa

Inggris resmi jadi negara pertama yang menarik diri dari Uni Eropa dalam sejarah sejak terbentuk 47 tahun silam

JAKARTAINSIGHT.com | Jumat 31 Januari 2020 waktu setempat menjadi momentum bersejarah bagi persekutuan negara-negara di Eropa, khususnya bagi Inggris yang secara resmi memilih mundur dari keanggotaan Uni Eropa setelah menjadi anggota selama 47 tahun.

Pengumuman resmi Brexit (Britain Exit) menjadi jawaban dari proses panjang referendum yang dilakukan pada 2016 lalu yang kemudian berlanjut dengan upaya pengunduran diri yang diajukan pemerintah Inggris setahun kemudian (2017).

Setelah resmi keluar dari keanggotaan Uni Eropa, Perdana Menteri Britania Raya Boris Johnson mengklaim akan melakukan perubahan secara nasional dan mengupayakan keadilan yang merata bagi masyarakat Inggris.

Meski demikian, negara beribu kota London tersebut masih harus menunggu 11 bulan ke depan untuk transisi hingga akhirnya UK sepenuhnya bebas dari blok Uni Eropa. Masih ada negosiasi perdagangan yang berkepanjangan dengan Uni Eropa.

Dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, tentu ini merupakan kekecewaan bagi warga Skotlandia yang sejak 2014 lebih memilih bergabung dengan Inggris ketimbang menjadi negara yang merdeka, pasalnya Skotlandia diketahui lebih mendorong Inggris untuk tidak mundur dari keanggotaan Uni Eropa.

Menyusul kepusutan Inggris keluar dari Uni Eropa, parlemen Skotlandia juga memutuskan bahwa keadaan sudah berubah sehingga referendum untuk kemerdekaan Skotlandia perlu diulang kembali.

Jika pun Skotlandia merevisi dan memilih jalan menjadi negara berdaulat (terpisah dari Britania Raya), maka Skotlandia akan kehilangan hak-hak mereka sebagai warga Uni Eropa untuk beberapa saat, karena dibutuhkan proses yang bisa memakan waktu tahunan, belum lagi bila dipersulit oleh Inggris yang merupakan anggota Uni Eropa yang cukup dominan.

Dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, maka perbankan Inggris kehilangan passporting rights – yang membuat bank-bank Inggris tidak dapat bertransaksi dengan mudah dengan klien-klien yang ada di Uni Eropa.

Bila bank-bank Inggris tidak punya hak tersebut, sangat mungkin bagi perusahaan-perusahaan di Uni Eropa yang banyak melakukan jasa perbankan di Inggris akan memindahkan dana mereka ke bank lain di Uni Eropa, yang tentu akan membawa dampak bagi ekonomi Inggris.

 

Editor:Mika Syagi
Asian Games || jakartainsight.com
BUMN || jakartainsight.com