Lagu-Lagu Berbahasa Jawa Jadi Tren di Kalangan Muda, Ternyata Ini Penyebabnya!

Lagu-Lagu Berbahasa Jawa Jadi Tren di Kalangan Muda, Ternyata Ini Penyebabnya!

Didi Kempot (Istimewa)

JAKARTAINSIGHT.com | Gempuran lagu dan juga artis-artis Korea atau K-pop terasa masif di Indonesia, hingga dirasa tidak akan ada yang mampu menggeser trend tersebut.

Tapi nampaknya hal itu salah besar, karena seperti diketahui akhir-akhir ini banyak lagu berbahasa Jawa mulai mengikis kepopuleran K-pop di Tanah Air. Malah sebenarnya perlahan tapi pasti sudah terasa sejak beberapa tahun belakangan ini.

Sebut saja, The Goodfather of Broken Heart alias Didi Kempot yang lagu-lagunya mampu menghipnotis kalangan milenial hingga banyak digandrungi.

‘Tanjung Mas Ninggal Janji’, ‘Suket Teki', 'Sewo Kuto’, dan ‘Pamer Bojo’ adalah lagu-lagu Didi Kempot yang sudah rilis beberapa tahun lalu.

Nama berikut yang mempopulerkan lagu berbahasa Jawa adalah penyanyi muda Denny Caknan dengan lagu 'Kartonyono Medot Janji' yang ditonton lebih dari 108 juta kali di YouTube.

Bikin mencuat lagi adalah Via Vallen yang meledak dengan lagu ‘Sayang’ hingga lagu berbahasa Jawa itu tampil di berbagai perhelatan, kemudian ditambah Nella Kharisma melantunkan ‘Bojo Galak’, ‘Konco Mesra’, dan ‘Aku Cah Kerjo’.

Menurut pengamat musik Bens Leo, ada beberapa alasan yang menyebabkan lagu-lagu berbahasa Jawa jadi populer dan tren di kalangan anak muda.

Bens Leo menyebut, media televisi memiliki peran penting dalam mempopulerkan lagu-lagu berbahasa Jawa lantaran kerap dibawakan di sejumlah acara televisi dalam kurun waktu lima tahun.

“Media televisi memiliki peran penting dalam mempopulerkan lagu-lagu bahasa Jawa,” kata Bens Leo, dikutip dari Jawapos, Senin (27/1/2020).

Selanjutnya, keberaadan orkes-orkes ataupun grup musik yang tersebar di banyak daerah di Jawa juga dinilai memiliki kontribusi besar atas sosialisasi lagu-lagu berbahasa Jawa ke hadapan publik.

Penyanyi-penyanyi lokal dari orkes-orkes ataupun grup musik kerap membawakan lagu-lagu berbahasa Jawa dalam setiap aksi panggung mereka.

Bahkan Editor in Chief Billboard Indonesia Adib Hidayat mengungkapkan teori, jika sebuah lagu baru bisa diakui puncak trending dan hits-nya ketika lagu itu dibawakan oleh grup musik lokal dan aransemen musiknya diubah menjadi dangdut koplo.

Bens Leo melanjutkan, sejumlah lagu berbahasa Jawa diminati publik karena adanya kesinambungan antara lirik, melodi dan harmoni lagu.

“Kalau aransemen musiknya bagus, lagunya gampang dibawakan, orang bisa menyanyikannya dengan baik, lagunya gampang dipahami, pada saat itulah lagu gampang jadi hits,” imbuhnya.

Alasan berikut diutarakan Nurbayan, penyanyi sekaligus pencipta lagu, ia menyebut karena bahasanya yang menjadi percakapan sehari-hari terutama di wlayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga lagu-lagu berbahasa Jawa mudah diterima publik.

Selain itu media sosial juga mengambil peran penting dalam mengangkat lagu-lagu berbahasa Jawa dengan memberi ruang kreativitas sangat luas bagi para penyanyi dalam mencari wadah untuk berpromosi.

Terakhir, anak-anak muda milenial yang selalu mencari sesuatu yang berbeda dan unik juga membuat lagu-lagu berbahasa Jawa menjadi tren serta diminati hingga mampu berjajar dengan K-pop atau juga genre lainnya.

 

 

Penulis: Ganest
Editor:Mika Syagi

Artikel Terkait

Positif Narkoba Lucinta Luna Diamankan Kepolisian
Selasa, 11 Februari 2020 17:51:41

Baca Lainnya

1510570014jakartahujan.jpg
NASIONAL
Ada Pohon Tumbang, Sejumlah Perjalanan KRL Tertahan
Senin, 13 November 2017 17:46:54

1510680910rohingya-exp-slide-4A9Q-superJumbo.jpg
INTERNASIONAL
1510683760jokowi-ktt-asean.jpg
INTERNASIONAL
1510729521Mayjen-TNI-Doni-Monardo.jpg
NASIONAL
1510741966Foto-1.jpg
EKBIS
Net1 Indonesia Ambil Bagian Dari MUBA Bergerak
Rabu, 15 November 2017 17:32:46

1510744254Robert-Mugabe.jpg
INTERNASIONAL
Militer Zimbabwe Kudeta Presiden Mugabe
Rabu, 15 November 2017 18:10:54

Berita Terpopuler
$(window).scroll(function() { var header = $("bg-top-static"); var scroll = $(window).scrollTop(); if (scroll <= 25) { $(".top-navigasi ul").css("text-align","left"); $(".top-navigasi ul").css("padding-right","0px"); $(".left-banner-to-top").css("top","150px"); $(".right-banner-to-top").css("top","150px"); } if (scroll >= 25) { header.addClass("relstatic-fixed"); $(".top-navigasi ul").css("text-align","center"); $(".top-navigasi ul").css("padding-right","78px"); $(".relstatic").addClass("relstatic-fixed"); $(".left-banner").addClass("left-banner-to-top"); $(".right-banner").addClass("right-banner-to-top"); $(".left-banner-to-top").css("top","0px"); $(".right-banner-to-top").css("top","0px"); } else { header.removeClass("relstatic-fixed"); $(".relstatic").removeClass("relstatic-fixed"); $(".left-banner").removeClass("left-banner-to-top"); $(".right-banner").removeClass("right-banner-to-top"); } if (scroll >= 2000) { console.log(scroll); $(".left-banner-to-top").css("top","-110px"); $(".right-banner-to-top").css("top","-110px"); } });