FGD Aliansi Kebangsaan: Kemandirian dan Kemakmuran Ekonomi Melalui Pengembangan Inovasi Teknologi

FGD Aliansi Kebangsaan: Kemandirian dan Kemakmuran Ekonomi Melalui Pengembangan Inovasi Teknologi

Pontjo Sutowo (Ketua Aliansi Kebangsaan), memberikan sambutan dalam FGD Aliansi Kebangsaan - FRI.

 

JAKARTAINSIGHT.com | Menutup akhir tahun 2019 ini, FGD lanjutan Aliansi Kebangsaan dan Forum Rektor Indonesia (FRI) kembali melaksanakan diskusi pada hari Jumat (13/12/2019) di Asean Room Hotel Sultan, Jakarta. Pada FGD lanjutan ini, FRI bersama Aliansi Kebangsaan mengangkat fokus bahasan bertajuk "Menumbuhkan Kemandirian dan Kemakmuran Ekonomi Secara Berkelanjutan Melalui Peningkatan Penguasaan dan Pengembangan Inovasi Teknologi".

Mengapa Teknologi menjadi begitu penting dalam membangun ketahanan nasional suatu bangsa?

Pontjo Sutowo selaku Ketua Aliansi Kebangsaan menjelaskan bahwa selain membangun ketahanan nasional bangsa, iptek juga merupakan tulang punggung pembangunan ekonomi. Teknologi menjadi faktor penting yang berkontribusi signifikan dalam peningkatan kualitas hidup suatu bangsa.

"Saat ini telah muncul sebuah paradigma baru, Tekno-Ekonomi (Techno-Economy Paradigm), yang menyebabkan terjadinya transisi perekonomian dunia. Sehingga kekuatan suatu bangsa  diukur dari kemampuan Ipteknya sebagai faktor primer ekonomi menggantikan modal, lahan, dan energi dalam meningkatkan daya saing," jelas Pontjo dalam sambutan pembukaan FGD Aliansi Kebangsaan-FRI.

Berdasarkan indeks yang dikeluarkan oleh International Telecommnunication Union (ITU) pada 2017 lalu, Indonesia berada diposisi 111 dari 176 negara, dengan indeks sebesar 4,34. Dibanding dengan negara Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, dan Vietnam, Indonesia tertinggal cukup jauh.

Selain itu, World Economic Forum yang pada 2017-2018 juga mempublikasikan indeka daya saing global, mencatat bahwa Indonesia berada dirangking 80 dari 137 negara.

Pada FGD kali ini, Aliansi Kebangsaan-FRI menggandeng Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dalam pembahasan tema diskusinya. Hadir para pakar ilmu teknologi bangsa seperti Prof. Dr. dr. Akmal Taher, Spu.K (Ketua AIPI yang juga pernah menjabat sebagai Dirut RSCM di tahun 2012), Prof. Dr. Muhammad Firdaus, S.P, M.si (Guru Besar Ilmu Ekonomi-IPB), Dr. Alan Frendy Koropitan, S.PI, M.si (Ketua Akademi Ilmuwan Muda Indonesia), Ir. Pri Utami, M.Sc, Ph.D (ahli Geothermal-UGM), yang di moderatori oleh Dr. HM. Nasrullah Yusuf, SE, MBA (Rektor Universitas Teknokrat Indonesia).

Dalam berbagai pembahasan serta ulasan dari para pakar teknologi ini, nantinya semua masukan dan rangkuman akan diberikan kepada pemerintah sebagai pertimbangan dalam langkah pembangunan serta ketahanan nasional bangsa kedepan.

Prof. Akmal Taher dalam pandangannya sebagai pakar bidang Kesehatan mengatakan, bahwa selama ini seluruh perencanaan pembuatan ataupun RPJMN di bidang kesehatan hanya sebatas antara pemerintah pusat dan daerah saja, tanpa melibatkan pihak swasta. Hal ini yang sering kita dengar sebagai proses sinergitas antara pusat dan daerah.

"Padahal integritas perkembangan teknologi baik itu bidang kesehatan ataupun lainnya, pemerintah harus juga melibatkan pihak swasta sebagai stakeholder-nya," jelas Akmal.

Sejalan dengan apa yang telah dijelaskan lleh Pontjo Sutowo maupun Akmal Taher, para pembicara lain juga menyetujui perlunya langkah kongkrit dalam Iptek sebagai sebuah terobosan dalam menumbuhkan kemadirian dan peningkatan dalam inovasi teknologi bagi ketahanan bangsa. Inilah yang harus di fokuskan  bagi kemajuan peradaban sebuah bangsa sesuai dengan materi FGD dalam Pembangunan Ranah Material Teknologikal (Tata Sejahtera) bangsa Indonesia, sesuai dengan Pancasila, khususnya sila keempat dan kelima.

Prof. Yudi Latief sebagai pakar Pancasila dari Aliansi Kebangsaan, dalam rangkumannya mengatakan, penerapan Pancasila dalam kehidupan bangsa Indonesia sebenarnya sudah baik, mulai dari sila pertama sampai ketiga. Namun untuk sila keempat mulai melenceng, yang diperburuk lagi dalam sila kelima, menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh elemen bangsa.

"Mulai dari apa yang kita punya dan  miliki. Itulah yang seharusnya bangsa ini lakukan. Tidak perlu meniru ataupun head to head dengan bangsa lain," jelas Yudi singkat.

Penjabarannya menurut Yudi melanjutkan adalah denga mencontohkan bangsa Jepang yang pernah mencoba head to head pada saat mengekspor mobil ke Amerika. Produk Toyota Crown mereka mencoba bersaing dengan milik Amerika seperti Chrysler dan GM, namun pada akhirnya hanya menjadi catatan buruk tentang kegagalan seluruh mobil Jepang.

Belajar dari contoh diatas, alangkah baik dan bijak bila kita saat ini belajar dari sejarah dan apa yang dilakukan oleh para leluhur dan pendiri bangsa.

"Catatan yang harus kita benahi untum kelangsungan hidup bangsa kedepan adalah memulai segala sesuatu, utamanya teknologi dari apa yang kita punya. Kembangkan sebijak dan searif mungkin bagi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia," pungkas Yudi.

 

 

 

 

 

Editor:Mika Syagi
Asian Games || jakartainsight.com
BUMN || jakartainsight.com