Menjamurnya Driver Ojol Beresiko Pada Penerimaan Negara

Menjamurnya Driver Ojol Beresiko Pada Penerimaan Negara

Pengemudi ojek online yang terus bertambah angkanya.

 

JAKARTAINSIGHT.com | Rentang waktu atau periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan segera berakhir. Bersamaan dengan itu, periode kedua dari pemerintahan mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut akan segera dimulai.

Dalam periode pertama ini pemerintahan Jokowi terbilang sukses mencapai target yang dicanangkan, terkait dengan turunnya tingkat pengangguran. Hingga akhir 2019, Jokowi menargetkan tingkat pengangguran turun ke level 4-5%. Faktanya, target itu memang tercapai.

Seperti dilansir oleh CNBC Indonesia, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan tingkat pengangguran per Februari 2019 tercatat pembulatan menjadi level 5%. Turunnya tingkat pengangguran ini seringkali dibanggakan, baik oleh Jokowi maupun para pembantunya di Kabinet Kerja.

Sayangnya, menurunnya tingkat pengangguran di era Jokowi ini ada sedikit catatan yang perlu diperhatikan lagi. Apa sebabnya? Walaupun tingkat pengangguran turun, nyatanya sektor informal masih menguasai pasar tenaga kerja Indonesia.

Dalam data dan pengamatan publik, peningkatan dan maraknya masyarakat yang memilih menjadi driver ojek online (ojol), menjadi sorotan utama. Dari materi presentasi Gojek yang diperoleh oleh CNBC Indonesia, perusahaan berbasis aplikasi transportasi ini memiliki lebih dari dua juta mitra driver yang tersebar di empat negara, yakni Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Singapura.

Indonesia sendiri memang merupakan pasar terbesar bagi Gojek, bisa dikatakan bahwa mayoritas dari dua juta mitra driver tersebut berada di tanah air.

Tidak ada salahnya memang bila masyarakat memilih profesi dengan menjadi driver Ojol. Toh, driver Ojol merupakan sebuah profesi yang halal dan resmi.

Hanya saja yang perlu menjadi catatan adalah, pemerintah harus jeli dan pandai dalam mewaspadai ataupun menyikapi fenomena ini. Karena, seharusnya masuk kedalam lapangan kerja yang formal, justru kenyataanya masyarakat Indonesia lebih memilih dan mengandalkan lapangan kerja informal guna menghidupi dirinya dan keluarganya.

Dalam beberapa tahun terakhir, kontribusi sektor informal terhadap total pasar tenaga kerja Indonesia tercatat mendekati level angka 60%.

Berkembangnya pasar tenaga kerja Indonesia yang didominasi oleh tenaga kerja informal tentu berbahaya. Hal ini beresiko besar pada sektor penerimaan negara, dimana menjadi tersendat lantaran kebanyakan tenaga kerja tidak membayar PPh. Padahal, PPh merupakan tulang punggung pemerintah untuk membiayai pembangunan. Inilah pekerjaan rumah bagi pemerintahan Presiden Jokowi kedepan, yakni perhatian terhadap sektor penerimaan negara melalui pajak tenaga kerja (PPh).

Penulis: Iwan
Editor:Mika Syagi

Artikel Terkait

Baca Lainnya

1510570014jakartahujan.jpg
NASIONAL
Ada Pohon Tumbang, Sejumlah Perjalanan KRL Tertahan
Senin, 13 November 2017 17:46:54

1510683760jokowi-ktt-asean.jpg
INTERNASIONAL
1510741966Foto-1.jpg
EKBIS
Net1 Indonesia Ambil Bagian Dari MUBA Bergerak
Rabu, 15 November 2017 17:32:46

1510744254Robert-Mugabe.jpg
INTERNASIONAL
Militer Zimbabwe Kudeta Presiden Mugabe
Rabu, 15 November 2017 18:10:54

Berita Terpopuler
$(window).scroll(function() { var header = $("bg-top-static"); var scroll = $(window).scrollTop(); if (scroll <= 25) { $(".top-navigasi ul").css("text-align","left"); $(".top-navigasi ul").css("padding-right","0px"); $(".left-banner-to-top").css("top","150px"); $(".right-banner-to-top").css("top","150px"); } if (scroll >= 25) { header.addClass("relstatic-fixed"); $(".top-navigasi ul").css("text-align","center"); $(".top-navigasi ul").css("padding-right","78px"); $(".relstatic").addClass("relstatic-fixed"); $(".left-banner").addClass("left-banner-to-top"); $(".right-banner").addClass("right-banner-to-top"); $(".left-banner-to-top").css("top","0px"); $(".right-banner-to-top").css("top","0px"); } else { header.removeClass("relstatic-fixed"); $(".relstatic").removeClass("relstatic-fixed"); $(".left-banner").removeClass("left-banner-to-top"); $(".right-banner").removeClass("right-banner-to-top"); } if (scroll >= 2000) { console.log(scroll); $(".left-banner-to-top").css("top","-110px"); $(".right-banner-to-top").css("top","-110px"); } });