Mewangi di Pasar Dunia, Ekspor Kopi Kintamani Meningkat 44 Persen

Mewangi di Pasar Dunia, Ekspor Kopi Kintamani Meningkat 44 Persen

Kopi Kintamani (Istimewa)

 

JAKARTAINSIGHT.com | Bicara sumber daya alam, kita sebagai warga negara Indonesia pasti akan sangat banga menyebutnya. Jelas saja, tanah yang membentang dan subur ini mampu menghasilkan banyak komoditas, salah satunya adalah kopi.

Produk kopi Tanah Air sangat terkenal sejak zaman kolonial dahulu, maka tak heran jika saat ini Indonesia banyak mengekspor hasil alam yang satu ini ke berbagai penjuru dunia. Adalah Kopi Kintamani yang juga memikat banyak orang di luar negeri sana.

Rasanya yang khas beraroma jeruk dengan tingkat keasaman sedang membuat kopi jenis arabika produksi petani di Kabupaten Kintamani, Bali, terus mewangi di pasar dunia.

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) mencatat adanya tren peningkatan sebesar 44 persen pada kinerja ekspor biji Kopi Kintamani hingga Oktober 2019 jika dibanding periode sama tahun sebelumnya.

 

Baca Juga: Proteksi Produk Tani Tingkatkan Nilai Komoditas dan Daya Saing

 

Ekspor Kopi Kintamani naik menjadi 43,46 ton dengan nilai Rp 4,8 miliar dalam kurun waktu Januari-Oktober 2019. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan masa yang sama pada 2018 yang hanya 32,8 ton senilai Rp 2,8 miliar.

Kepala Barantan Ali Jamil mengatakan, negara tujuan ekspornya pun bertambah dari hanya 9 negara menjadi 13 negara, diantaranya China, Arab Saudi, Hongkong, dan Austria.

"Bali dengan segala keunggulan daya tariknya, terus mencatat prestasi kinerja ekspor pertanian. Kami sangat mengapresiasi kerjasama seluruh stakeholder baik pusat, daerah dan pelaku usaha,” tuturnya pria yang akrab disapa Jamil, Sabtu (12/10/2019).

Buat masyarakat di Bali, lanjutnya, kami juga mengajak untuk bersama-sama petugas karantina menjaga status kesehatan hewan dan tumbuhan agar produk pertanian di Bali tetap aman dikonsumsi, lestari dan laris di pasar ekspor.

Menurut Jamil, pihaknya selaku fasilitator perdagangan menjamin kesehatan dan keamanan produk pertanian sesuai dengan protokol ekspor negara mitra dagang. Dia juga melepas ekspor biji Kopi Kintamani dengan volume 25 ton senilai Rp 3 miliar ke Korea Selatan dan Amerika Serikat.

 

Baca Juga: Indonesia Menjadi Lumbung Pangan Dunia Akan Tercapai, Asalkan!

 

"Biji kopi merupakan kelompok medium risk atau komoditas risiko sedang, dengan target pemeriksaan bebas hama Hypothenemus hampeii. Serangkaian tindakan karantina dilakukan guna memastikan produk memenuhi persyaratan Sanitary and Phytosanitary (SPS Measure)," jelasnya.

Dalam memberikan layanan karantina, Barantan disebutnya juga telah menerapkan layanan ekspor cepat berupa sistem in line inspection yang dapat mempercepat waktu bongkar muat barang di tempat pengeluaran, baik melalui bandar udara, pelabuhan dan lainnya.

"Melalui layanan ini memungkinkan pemeriksaan karantina dilakukan sebelum proses pengemasan, sehingga waktu bongkar muat di dapat dipersingkat sekaligus menjamin produk pertanian aman dan sehat tiba di negara tujuan," tutup Jamil.

 

 

 

Penulis: Ganest
Editor:Mika Syagi

Artikel Terkait

Baca Lainnya

1510570014jakartahujan.jpg
NASIONAL
Ada Pohon Tumbang, Sejumlah Perjalanan KRL Tertahan
Senin, 13 November 2017 17:46:54

1510683760jokowi-ktt-asean.jpg
INTERNASIONAL
1510741966Foto-1.jpg
EKBIS
Net1 Indonesia Ambil Bagian Dari MUBA Bergerak
Rabu, 15 November 2017 17:32:46

1510744254Robert-Mugabe.jpg
INTERNASIONAL
Militer Zimbabwe Kudeta Presiden Mugabe
Rabu, 15 November 2017 18:10:54

Berita Terpopuler
$(window).scroll(function() { var header = $("bg-top-static"); var scroll = $(window).scrollTop(); if (scroll <= 25) { $(".top-navigasi ul").css("text-align","left"); $(".top-navigasi ul").css("padding-right","0px"); $(".left-banner-to-top").css("top","150px"); $(".right-banner-to-top").css("top","150px"); } if (scroll >= 25) { header.addClass("relstatic-fixed"); $(".top-navigasi ul").css("text-align","center"); $(".top-navigasi ul").css("padding-right","78px"); $(".relstatic").addClass("relstatic-fixed"); $(".left-banner").addClass("left-banner-to-top"); $(".right-banner").addClass("right-banner-to-top"); $(".left-banner-to-top").css("top","0px"); $(".right-banner-to-top").css("top","0px"); } else { header.removeClass("relstatic-fixed"); $(".relstatic").removeClass("relstatic-fixed"); $(".left-banner").removeClass("left-banner-to-top"); $(".right-banner").removeClass("right-banner-to-top"); } if (scroll >= 2000) { console.log(scroll); $(".left-banner-to-top").css("top","-110px"); $(".right-banner-to-top").css("top","-110px"); } });