Jangan Sepelekan Kram di Kaki, Ini Risikonya!

Jangan Sepelekan Kram di Kaki, Ini Risikonya!

Ilustrasi: Istimewa

JAKARTAINSIGHT.com | Gangguan kesehatan yang menimpa diri kita terkadang kerap kali diabaikan karena memang tidak terlalu terasa atau tidak terlalu berdampak.

Salah satu contohnya adalah masalah kram pada kaki yang sering dijumpai pada mereka yang kurang berolahraga, dan juga dialami banyak orang seiring bertambahnya usia.

Namun sayangnya tidak sedikit yang mengabaikan karena dianggap masalah biasa saja. Tapi hal ini harusnya jangan disepelekan atau dipandang sebelah mata. Ternyata masalah yang biasa muncul ini adalah pertanda dari masalah kesehatan yang lebih serius.

Dilansir dari New York Post, sakit di kaki ini pada beberapa kasus bisa jadi pertanda awal adanya stroke atau serangan jantung yang membahayakan. Pasalnya, kram kaki bisa jadi tanda adanya penyakit arteri perifer yang bisa berisiko pada kesehatan jantung dan otak.

Seseorang yang mengalami penyakit arteri perifer merasa sakit karena adanya simpanan lemak di arteri kaki yang menghambat aliran darah ke otot. Hal ini juga terjadi pada arteri yang mengalir ke jantung dan otak.

Masalah ini menyebabkan seseorang penderita penyakit jantung perifer lebih berisiko mengalami serangan jantung atau stroke dibanding orang lain.

"Ketika kamu merasakan cengkeraman atau sensasi kram pada betis ketika berjalan, maka sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter karena bisa jadi tanda adanya penyakit jantung perifer," terang Professor David Newby, profesor kardiologi dari British Heart Foundation Professor.

"Hal ini umum dialami perokok dan orang yang memiliki diabetes," sambungnya.

Walau selama ini lebih cenderung dialami pria, namun penyakit ini juga dialami pada wanita. Penyakit ini diderita satu dari setiap sepuluh wanita dengan usia di atas 50 tahun dan satu dari lima wanita berusia di atas 60 tahun.

Meski begitu, masalah ini paling banyak dialami orang ketika usia bertambah terutama pada yang merokok atau memiliki tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes.

Gejala dari penyakit jantung perifer melingkupi nyeri dan kram di betis, paha, pinggul, dan pantat. Hal ini lebih banyak dialami pada otot dan bukan pada persendian.

Rasa sakit yang muncul ini juga berbeda dari kelelahan otot yang disebabkan karena olahraga yang biasanya bertahan selama beberapa jam atau hari.

Berbeda dari nyeri otot karena olahraga, rasa ngilu yang muncul ini terjadi karena gerakan dan bakal menghilang setelah beristirahat.

"Hal ini mungkin terjadi ketika ketika berjalan naik tangga atau bukit dan kamu bakal berhenti berkali-kali untuk beristirahat," Dr. Aruna Pradhan, pakar kardiologi dan asisten profesor di Harvard Medical School.

Selain terjadi ketika berjalan, kram kaki yang disebabkan karena penyakit jantung perifer bisa terjadi saat kamu tiduran. Beberapa orang bahkan mengalami perubahan warna di kaki, luka yang lama sembuh, rasa dingin di salah satu atau kedua kaki, bertumbuhnya rambut pada kaki atau kuku.

Walau masalah ini mungkin tidak hanya terjadi karena penyakit jantung perifer, namun disarankan untuk berkonsultasi ke dokter ketika mengalami masalah ini. Disarankan untuk mengukur tekanan darah pada kaki dan tangan juga.

Hasil tes tekanan darah ini untuk melihat apakah arteri milikmu tak mengalami masalah. Tekanan darah rendah di kaki bisa menjadi pertanda kamu mengalami penyakit jantung perifer.

 

Penulis: Ganest
Editor:Yazeed Alexander

Artikel Terkait

Baca Lainnya

1510570014jakartahujan.jpg
NASIONAL
Ada Pohon Tumbang, Sejumlah Perjalanan KRL Tertahan
Senin, 13 November 2017 17:46:54

1510683760jokowi-ktt-asean.jpg
INTERNASIONAL
1510741966Foto-1.jpg
EKBIS
Net1 Indonesia Ambil Bagian Dari MUBA Bergerak
Rabu, 15 November 2017 17:32:46

1510744254Robert-Mugabe.jpg
INTERNASIONAL
Militer Zimbabwe Kudeta Presiden Mugabe
Rabu, 15 November 2017 18:10:54

Berita Terpopuler
$(window).scroll(function() { var header = $("bg-top-static"); var scroll = $(window).scrollTop(); if (scroll <= 25) { $(".top-navigasi ul").css("text-align","left"); $(".top-navigasi ul").css("padding-right","0px"); $(".left-banner-to-top").css("top","150px"); $(".right-banner-to-top").css("top","150px"); } if (scroll >= 25) { header.addClass("relstatic-fixed"); $(".top-navigasi ul").css("text-align","center"); $(".top-navigasi ul").css("padding-right","78px"); $(".relstatic").addClass("relstatic-fixed"); $(".left-banner").addClass("left-banner-to-top"); $(".right-banner").addClass("right-banner-to-top"); $(".left-banner-to-top").css("top","0px"); $(".right-banner-to-top").css("top","0px"); } else { header.removeClass("relstatic-fixed"); $(".relstatic").removeClass("relstatic-fixed"); $(".left-banner").removeClass("left-banner-to-top"); $(".right-banner").removeClass("right-banner-to-top"); } if (scroll >= 2000) { console.log(scroll); $(".left-banner-to-top").css("top","-110px"); $(".right-banner-to-top").css("top","-110px"); } });