Ulas Fakta Seputar Industri Influencer di Tengah Pandemi

Ulas Fakta Seputar Industri Influencer di Tengah Pandemi
Virtual press confrence by Gushcloud.

 

JAKARTAINSIGHT.com | Melalui virtual conference by zoommeeting, Grup pemasaran dan talenta digital global Gushcloud International (“Gushcloud”) memberikan informasi seputar industri Influencer Marketing. Gushcloud merilis laporan resmi tentang hal ini terkait efek dari pandemi COVID-19.

Acara bertajuk “The New Normal: How COVID-19 has Changed the Fundamentals of Influencer Marketing in Southeast Asia” dihadirkan dalam format Whitepaper, dimana dapat diakses publik melalui website Gushcloud International.

Pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung pertama kali menghantam wilayah Asia Tenggara pada Januari 2020, dan sejak itu berdampak besar pada negara-negara tersebut.  Whitepaper secara spesifik mencoba mengeksplorasi dan membahas dampak pandemi COVID-19 pada industri influencer marketing dan digital entertainment di pasar utama di Asia Tenggara, yaitu Singapura, Malaysia, Indonesia, Filipina, Vietnam dan Thailand, sementara juga melihat studi kasus dari Cina dan Amerika Serikat, yang sering menetapkan standar dan praktik yang diikuti pasar Asia Tenggara.

“Perubahan yang dibawa oleh COVID-19 telah memicu poros utama dalam perilaku konsumen, seperti apa yang mereka habiskan, konten yang mereka konsumsi, dan prioritas mereka. Agar para digital creator dan industri pemasaran dapat beradaptasi, kita perlu merangkul perubahan ini dan sepenuhnya mengadopsinya untuk mengedepankan strategi baru terhadap merek,” ungkap Althea Lim, Group CEO Gushcloud International.

Untuk negara Indonesia sendiri, Oddie Randa, Country Director Gushcloud Indonesia menjelaskan bisnis influencer marketing di tengah pandemi COVID-19  saat ini mampu bertahan meskipun tetap merasakan dampak yg cukup besar dari pengurangan marketing budget dari beberapa big spender. 

“Dengan adanya pengurangan marketing budget ini, Gushcloud melihat ini sebagai sesuatu yang wajar karena banyak bisnis yang harus melakukan penyesuaian dengan lini pendapatan mereka yang terhantam keras oleh pandemi. Dalam beberapa bulan kedepan, semua perusahaan ini akan mampu menyesuaikan diri dengan pandemi dan kembali ke posisi spending seperti semula.” ungkap Oddie.

Whitepaper juga mengeksplorasi bagaimana keadaan dunia pasca-COVID-19. Audiens saat ini memiliki dengan kemampuan pembelian digital yang luas, pemegang merek dan influencer harus melihat dan memanfaatkan strategi e-commerce seperti live-commerce dan social commerce sebagai peluang pendapatan baru . Dalam hal output konten, peluang baru dari adopsi format dan platform baru seperti TikTok, Twitch, dan Instagram Live diperkirakan akan bertahan untuk jangka Panjang. Pemegang merek dan influencer harus berupaya mengoptimalkan konten pemasaran mereka untuk platform ini.

Lani Rahayu, AVP Social Media & Community Blibli.com mengungkapkan bahwa pelaku industri dan brand juga harus menyesuaikan diri dalam memanfaatkan influencer marketing. Blibli, yang merupakan platform e-commerce, memiliki keunggulan lebih dalam melihat karakteristik pasar terutama dari kacamata pelanggan. “Sebagai sebuah brand, kami juga harus mengambil satu langkah di depan pasar agar dapat memanfaatkan influencer marketing dengan maksimal. Sebagai contoh, Blibli telah menerapkan hal ini saat mengadakan program live streaming Blibli 9th Anniversary: Bagi-Bagi Hepi yang terbukti sukses menarik perhatian, bahkan mereka yang belum menjadi pelanggan kami. Hal ini menunjukkan sinergi dan kolaborasi antara brand dan influencer adalah suatu keharusan di situasi New Normal,” tutur Lani.

Whitepaper menampilkan wawasan dari para profesional industri dari seluruh wilayah, dan juga dibentuk dengan konsultasi dengan Dr. Crystal Abidin (Internet Studies, Curtin University), seorang antropolog dan ahli etnografi yang meneliti budaya influencer, terutama hubungan kaum muda dengan selebriti internet, visibilitas online dan budaya pop media sosial.

Saat virtual press conference, Jang Hansol dan Amel Carla yang tergabung sebagai exclusive talents di Gushcloud berpendapat, sejak adanya pandemi COVID-19 ini, terdapat banyak perubahan yang terjadi dalam pembuatan sebuah konten. “Dengan kondisi seperti saat ini, kami sebagai content creator harus dapat membuat ide dan kreatifitas baru supaya konten tersebut dapat dinikmati audiens kami meskipun berada di rumah” ungkap Jang Hansol. 

“Memang, pandemi ini terbukti menjadi periode yang sangat sulit bagi seluruh industri. Namun, dengan adanya situasi ini juga menciptakan peluang baru untuk influencer, content creator, bisnis, dan agensi merek. Jika ada industri yang mampu gesit dan cepat untuk menyesuaikan dan beradaptasi dengan perubahan besar, itulah industri pencipta digital, " tambah Althea Lim.

 

Editor:Mika Syagi
Asian Games || jakartainsight.com
BUMN || jakartainsight.com