Berikut Pernyataan Tidak Setuju Dirut Garuda Terkait Pramugari Kenakan APD!

Berikut Pernyataan Tidak Setuju Dirut Garuda Terkait Pramugari Kenakan APD!

Irfan Setiaputra, Dirut Garuda Indonesia. (istimewa)

 

JAKARTAINSIGHT.com | Terkait geliat sektor pariwisata yang sempat down akibat pandemi Covid-19, saat ini pelaku industri pariwisata di seluruh dunia telah mulai menerapkan The New Normal. Hal inilah yang menjadi pokok bahasan dalam sesi webinar International Tourist Forum (ITF), Jumat (15/05) kemarin.

Bersama World Travel & Tourism Council (WTTC), diskusi pun diramaikan hadirnya Gloria Guevara selaku President & CEO World Travel & Tourism Council hingga Dirut Garuda, Irfan Setiaputra.

Diskusi juga merujuk pada protokoler yang dianjurkan oleh Badan Keaehatan Dunia (WHO). Tak sedikit maskapai yang telah menerapkan protokoler kesehatan, bahkan ada sebuah maskapai yang mewajibkan pramugarinya menggunakan APD Kesehatan secara lengkap.

Berkenaan dengan penggunaan APD pada pramugari ini, Dirut Garuda Irfan Setiaputra menyatakan sikap kurang setuju.

"Garuda tidak setuju dengan maskapai tersebut, segala APD Kesehatan yang tampak seperti astronot itu. Saya akan mempertanyakan, itu di rumah sakit atau di pesawat? Hal itu dapat memberi impresi yang salah," ujar Irfan. (detikcom)

Lebih jauh Irfan menjelaskan, bahwa sejatinya dunia penerbangan merupakan sektor industri yang menyenangkan. Kesan itu akan hilang dengan hadirnya penggunaan APD Kesehatan oleh para pramugari.

Namun Irfan juga memahami bahwa inovasi itu muncul sebagai upaya untuk memberi rasa aman dan kepastian di era The New Normal. Menanggapi situasi tersebut, Irfan menjelaskan bahwa Garuda Indonesia pun telah menjalankan protokol kesehatan yang dirasa perlu.

"Garuda akan berfokus pada kesehatan penumpang, itu yang pasti. Tak boleh ada satu pun penumpang kami yang merasa terancam," ujar Irfan.

Selain APD Kesehatan, Irfan juga menyoroti soal pembatasan jumlah penumpang terkait keamanan. Kebijakan itu pun sepertinya tak sepenuhnya akan disukai penumpang.

"Bila penumpang dipisah bangku, bayangkan kalau itu dilakukan untuk waktu flight yang lama. Apalagi bersama keluarga?" ungkap Irfan.

"Kebijakan itu juga akan berdampak pada tarif, tapi kenaikan tarif hingga dua kali lipat sangat tidak mungkin," tutup Irfan.

Sementara itu President & CEO World Travel & Tourism Council, Gloria Guevara menyampaikan perlunya penyesuaian protokoler oleh semua pihak di tengah pandemi COVID-19. Tidak terkecuali untuk pihak maskapai seperti Garuda Indonesia.

"Kami juga bekerja sama dengan IATA terkait protokoler di dunia penerbangan," ujar Gloria.

Gloria menggarisbawahi, bahwa pihaknya tengah menggodok protokoler resmi untuk pihak maskapai di bawah rekomendasi World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDCP).

Editor:Mika Syagi
Asian Games || jakartainsight.com
BUMN || jakartainsight.com