BMKG: Waspada Bibit Siklon Tropis Timbulkan Hujan Ekstrem

BMKG: Waspada Bibit Siklon Tropis Timbulkan Hujan Ekstrem

BMKG (Istimewa) 

JAKARTAINSIGHT.com | Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan siklon tropis di Laut Banda, Maluku, yang terus menguat bisa berpotensi menimbulkan hujan ekstrem di sejumlah wilayah. Warga yang tinggal di bantaran sungai diimbau waspada.

Hal itu disampaikan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, yang mengatakan,  apabila terjadi seperti yang diperkirakan besok pukul 13.00 WIB, yang dikhawatirkan kecepatan pusaran siklon ini, pusaran angin ini akan meningkat hingga dapat mencapai 65 kilometer per jam atau kurang lebih 35 knot per jam. 

"Artinya putarannya semakin kencang tentunya akan berdampak, mengakibatkan angin kencang dan juga hujan yang lebat. Hal itu yang kita sebut sebagai hujan ekstrem," kata Dwikorita di kantornya Jl Angkasa 1, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2019).

Ia juga mengkhawatirkan bibit siklon ini bisa mengakibatkan cuaca ekstrem seperti yang sempat menimpa Jakarta, Bengkulu, dan Bogor.

Untuk itu, BMKG meminta masyarakat yang berada di bantaran sungai untuk waspada.Pintu-pintu air juga diimbau untuk bersiaga.

Beberapa wilayah yang diprediksi mengalami hujan ekstrem yakni di Maluku bagian tenggara, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Timor Leste.

"Bengkulu, Jakarta, Bogor itu hujan ekstremnya sampai menimbulkan kerusakan, kerugian, gangguan. Itu tanpa ada siklon. Nah apa lagi saat ini diperkuat dengan adanya siklon. Sehingga inilah pentingnya kami mengimbau masyarakat tetap tenang tapi lebih waspada, bersiap-siap," tuturnya.

Apabila, ia melanjutkan, diperkirakan akan terjadi hujan ekstrem, ini sebaiknya pohon-pohon yang mudah tumbang itu sudah disiapkan. Masih ada waktu sampai jam 13.00 WIB besok, kan misalnya. 

"Insyaallah kami ini kan juga berkoordinasi dengan BPBD setempat dan Kementerian PUPR sehingga kesiapan itu harapkan akan lebih siap untuk menghindari terjadinya korban jiwa ataupun kerusakan yang sangat merugikan. Poinnya itu," sambung Dwikorita.

BMKG mencatat, apabila berubah menjadi siklon fenomena cuaca ini merupakan yang kedelapan kalinya sejak tahun 2008. Siklon ini belum memiliki nama lantaran belum baru sebatas bibit.

"Terakhir tuh namanya bener-bener lahir itu namanya Kenanga sebelumnya. Ini nanti kita beri nama Lili. Kalau memang lahir," terangnya.

Lebih lanjut, Dwikorita juga mengatakan, bibit siklon ini berbahaya untuk penerbangan pesawat yang terbang rendah. Sebab, pertumbuhan awan akan semakin intensif dan membahayakan.

"Bibit siklon atau siklon ini kan mengakibatkan juga pertumbuhan awan yang semakin intensif atau yang membahayakan bagi penerbangan itu, kumolonimbus, awan yang tebal. Jadi kalau menerobos awan itu dikhawatirkan akan menimbulkan guncangan atau ketidaknyamanan penerbangan," katanya.

"BMKG insyaallah tetap selalu mengawal cuaca untuk penerbangan, terutama untuk pesawat yang ingin take off dari darat menuju ketinggian tertentu. Pasti harus melewati zona itu kan, atau pun yang akan landing. Ini kami selalu meng-update informasi setiap 30 menit kepada para awak penerbang atau kepada airline, penjaga lalu lintas penerbangan," pungkasnya.

 

 

Penulis: Tofan
Editor:Mika Syagi

Artikel Terkait

Baca Lainnya

1510570014jakartahujan.jpg
NASIONAL
Ada Pohon Tumbang, Sejumlah Perjalanan KRL Tertahan
Senin, 13 November 2017 17:46:54

1510683760jokowi-ktt-asean.jpg
INTERNASIONAL
1510741966Foto-1.jpg
EKBIS
Net1 Indonesia Ambil Bagian Dari MUBA Bergerak
Rabu, 15 November 2017 17:32:46

1510744254Robert-Mugabe.jpg
INTERNASIONAL
Militer Zimbabwe Kudeta Presiden Mugabe
Rabu, 15 November 2017 18:10:54

Berita Terpopuler
$(window).scroll(function() { var header = $("bg-top-static"); var scroll = $(window).scrollTop(); if (scroll <= 25) { $(".top-navigasi ul").css("text-align","left"); $(".top-navigasi ul").css("padding-right","0px"); $(".left-banner-to-top").css("top","150px"); $(".right-banner-to-top").css("top","150px"); } if (scroll >= 25) { header.addClass("relstatic-fixed"); $(".top-navigasi ul").css("text-align","center"); $(".top-navigasi ul").css("padding-right","78px"); $(".relstatic").addClass("relstatic-fixed"); $(".left-banner").addClass("left-banner-to-top"); $(".right-banner").addClass("right-banner-to-top"); $(".left-banner-to-top").css("top","0px"); $(".right-banner-to-top").css("top","0px"); } else { header.removeClass("relstatic-fixed"); $(".relstatic").removeClass("relstatic-fixed"); $(".left-banner").removeClass("left-banner-to-top"); $(".right-banner").removeClass("right-banner-to-top"); } if (scroll >= 2000) { console.log(scroll); $(".left-banner-to-top").css("top","-110px"); $(".right-banner-to-top").css("top","-110px"); } });