Aliansi Kebangsaan : Bangsa yang Kokoh dan Berperadaban Sesuai dengan Paradigma Pancasila

Aliansi Kebangsaan : Bangsa yang Kokoh dan Berperadaban Sesuai dengan Paradigma Pancasila

FGD 2018-2020 yang digalang Aliansi Kebangsaan bersama Forum Rektor Indonesia.

JAKARTAINSIGHT.com | Untuk kedua kalinya Aliansi Kebangsaan Berkolaborasi dengan Forum Rektor Indonesia (FRI) serta Kompas Grup menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) 2019-2020. Dalam FGD kali ini, tema yang akan menjadi pembahasan selama setahun kedepan adalah "Mengukuhkan Kebangsaan yang Berperadaban Menuju Cita-cita Nasional dengan Paradigma Pancasila".

Dalam diskusi pembukaan di Bentara Budaya Jakarta pada hari Rabu (20/03/2019) kemarin, Pontjo Sutowo selaku Ketua Aliansi Kebangsaan mengatakan bahwa, "Ini merupakan kedua kalinya Aliansi Kebangsaan bekerjasama dengan FRI menyelenggarakan forum diskusi bersama selama setahun kedepan. Seperti biasa hasil diskusi ini nantinya akan dirangkum dan dibukukan untuk kemudian diserahkan kepada pemerintah sebagai referensi dalam pembangunan masyarakat adil, makmur, dan sejahtera sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasannya."

Hadir sebagai pembicara dalam diskusi ini diantaranya adalah, Prof. Dwia Aries Tina Pulubuhu selaku Ketua FRI, Yudi Latif P.hD, Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, Msc, Prof. Dr. Didin S. Damanhuri, SE. MS, Mayjen (Purn) I Dewa Putu Rai, serta Prof. Dr Emil Salim selaku Keynote Speaker.

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Emil Salim menjabarkan soal perekonomian dan ekonomi kerakyatan yang sedang berlangsung dalam tatanan kehidupan berbangsa saat ini. Emil (Salim) menekankan bahwa Pancasila merupakan teropong sebagai cara kita melihat peri kehidupan bangsa di dunia ini. Sebagai contoh Amerika dengan Kapitalismenya, Rusia dengan Komunismenya, nah bangsa Indonesia oleh para pendirinya saat Kemerdekaan menggunakan Pancasila sebagai teropongnya dalam melihat dunia.

"Lebih jauh kita perlu mencoba menterjemahkan Pancasila didalam bahasa kuantitatif,..." lanjut Emil.

Bagaimana menjalankan Ketuhanan yang Maha Esa didalam lingkungan pembangunan bangsa? Emil menjelaskan bahwa untuk itu diperlukan tolok ukur dan pembanding agar kita dapat mengetahui dimana kelemahan-kelemahan kita, terutama pemerintah dalam mengembangkan Ketuhanan yang Maha Esa.

"Ada perbedaan menarik dari sudut pandang kawan-kawan muslim terhadap dua hal, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan (habluminallah) dan hubungan manusia dengan masyarakat (habluminannas)," tegas Emil.

Sementara Yudi Latif dalam narasinya menitik beratkan pada indeks-indeks demokrasi, diantaranya adalah indeks technologycal mastering (penguasaan sains dan teknologi). Hal ini akan terlihat nantinya bagaimana demokrasi punya dampak bagi produktifitas nasional.

"Tatanan pendidikan yang bisa mengarah pada manusia yang berkarakter, berbudi pekerti sekaligus kratif dan jiwa merdeka, sementara pada tatanan institusi kita melahirkan satu tatanan pola sosial dan kebijakan yang mengembangkan persatuan dan keadilan. Lalu tatanan yang berikutnya patriot technologycal adalah mengembangkan satu rezim produksi yang bisa menjamin kesejahteraan umum, sekaligus juga bagaimana kreatif umum bisa dinaikkan dengan mengintegrasikan sains-teknologi di sektor produktif," kata Yudi mengakhiri.

Penulis: Iwan
Editor:Yazeed Alexander

Artikel Terkait

Baca Lainnya

1510570014jakartahujan.jpg
NASIONAL
Ada Pohon Tumbang, Sejumlah Perjalanan KRL Tertahan
Senin, 13 November 2017 17:46:54

1510683760jokowi-ktt-asean.jpg
INTERNASIONAL
1510741966Foto-1.jpg
EKBIS
Net1 Indonesia Ambil Bagian Dari MUBA Bergerak
Rabu, 15 November 2017 17:32:46

1510744254Robert-Mugabe.jpg
INTERNASIONAL
Militer Zimbabwe Kudeta Presiden Mugabe
Rabu, 15 November 2017 18:10:54

Berita Terpopuler
$(window).scroll(function() { var header = $("bg-top-static"); var scroll = $(window).scrollTop(); if (scroll <= 25) { $(".top-navigasi ul").css("text-align","left"); $(".top-navigasi ul").css("padding-right","0px"); $(".left-banner-to-top").css("top","150px"); $(".right-banner-to-top").css("top","150px"); } if (scroll >= 25) { header.addClass("relstatic-fixed"); $(".top-navigasi ul").css("text-align","center"); $(".top-navigasi ul").css("padding-right","78px"); $(".relstatic").addClass("relstatic-fixed"); $(".left-banner").addClass("left-banner-to-top"); $(".right-banner").addClass("right-banner-to-top"); $(".left-banner-to-top").css("top","0px"); $(".right-banner-to-top").css("top","0px"); } else { header.removeClass("relstatic-fixed"); $(".relstatic").removeClass("relstatic-fixed"); $(".left-banner").removeClass("left-banner-to-top"); $(".right-banner").removeClass("right-banner-to-top"); } if (scroll >= 2000) { console.log(scroll); $(".left-banner-to-top").css("top","-110px"); $(".right-banner-to-top").css("top","-110px"); } });