Berikut Rincian Kenaikan Tarif 1.147 Barang Impor

Berikut Rincian Kenaikan Tarif 1.147 Barang Impor

 Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Yayu/Merdeka.com)

JAKARTAINSIGHT.com | Pergolakan ekonomi global mempengaruhi tingginya dinamika terhadap neraca transaksi berjalan (current account) dan mata uang di banyak negara termasuk Indonesia.

Diketahui, pada semester I 2018 neraca transaksi berjalan Indonesia mencapai USD13,5 miliar (2,6 persen terhadap PDB), salah satu penyebabnya ialah pertumbuhan impor yang jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekspor.

Untuk itu pemerintah Jokowi - JK memandang perlu merevisi naik tarif pajak penghasilan (PPh) 22 untuk 1.147 barang impor dalam mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan guna menjaga fundamental ekonomi negeri ini.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan barang mewah diimpor tidak begitu penting untuk kondisi saat ini, dan juga banyak barang impor untuk kebutuhan lain yang masih bisa didapat di dalam negeri.

"Dalam situasi seperti ini impor barang mewah, sama sekali enggak penting untuk Republik ini. Selain itu juga ada makanan dan minuman, 1.147 ada seperti teh, masa Indonesia penghasil teh, impor teh? Itu kan ada subtitusinya. Impor ikan, kopi, makarel kalengan. Kenapa enggak mancing di negeri sendiri? Ini suatu kesempatan. Masa shampo juga harus diimpor," ujar Sri Mulyani di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (5/9).

Pemerintah lelah melakukan tinjauan terhadap barang-barang yang diatur da|am Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 132/PMK 010/2015. PMK 6/PMK.010/2017 dan PMK 34/PMK.010/2017.

Proses tinjauan dilakukan secara bersama-sama oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan. Kementerin Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Kantor Staf Presiden.

Berikut hasil tinjauan tentang penyesuaian tarif PPh Pasal 22 terhadap 1.147 pos tariff seperti terperinci di bawah ini:

  1. 210 item komoditas, tarif PPh 22 naik dari 7,5 persen menjadi 10 persen. Termasuk dalam kategori ini adalah barang mewah seperti mobil CBU dan motor besar. 
  2. 218 Item komoditas, tarif PPh 22 naik dari 2,5 persen menjadi 10 persen. Termasuk dalam kategori ini adalah seluruh barang konsumsi yang sebagian besar telah dapat diproduksi di dalam negeri seperti barang elektronik (dispenser air, pendingin ruangan, lampu). keperluan sehari-hari seperti sabun, sampo, kosmetik, serta peralatan masak/dapur.
  3. 719 item komoditas, tarif PPh 22 naik dari 2,5 persen menjadi 7,5 persen. Termasuk dalam kategori ini seluruh barang yang digunakan dalam proses konsumsi dan keperluan Ialnnya. Contohnya bahan bangunan (keramik), ban, peralatan elektronik audio-visual (kabel, box speaker), produk tekstil (overcoat, polo shirt, swim wear).

 

 

Penulis: Ganest
Editor:Ganest

Artikel Terkait

Net1 Indonesia Ambil Bagian Dari MUBA Bergerak
Rabu, 15 November 2017 17:32:46

Baca Lainnya

1510570014jakartahujan.jpg
NASIONAL
Ada Pohon Tumbang, Sejumlah Perjalanan KRL Tertahan
Senin, 13 November 2017 17:46:54

1510683760jokowi-ktt-asean.jpg
INTERNASIONAL
1510741966Foto-1.jpg
EKBIS
Net1 Indonesia Ambil Bagian Dari MUBA Bergerak
Rabu, 15 November 2017 17:32:46

1510744254Robert-Mugabe.jpg
INTERNASIONAL
Militer Zimbabwe Kudeta Presiden Mugabe
Rabu, 15 November 2017 18:10:54

Berita Terpopuler

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: op_link/o_detail.php

Line Number: 350

Sumber : Bank BTN

Tabel Pergerakan Dan Fluktuasi Kurs/harga Forex

Tabel dibawah akan menunjukkan berapa selisih dari kurs forex dalam suatu periode tertentu. Yaitu 4 jam, hari, minggu dan bulan. Selisih dihitung dari data terakhir yg diupdate oleh server.

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: op_link/o_detail.php

Line Number: 408

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: op_link/o_detail.php

Line Number: 410

http://www.seputarforex.com