Pandu Sastrowardoyo: Kepemimpinan Era Blockchain Harus terbuka

Pandu Sastrowardoyo: Kepemimpinan Era Blockchain Harus terbuka

Pandu Sastrowardoyo, pakar teknologi Blockchain.

JAKARTAINSIGHT.com | Blockchain selama ini dikenal sebagai teknologi pengembangan dari Cryptocurency, yang hingga kini masih menjadi perbincangan hangat dikalangan industri maupun insan IT. Perbedaan sudut pandang inilah yang sebenarnya menjadi pro dan kontra antara sebuah perusahaan-perusahaan konvensional dengan tenaga IT, bahkan komunitas Blockchain sendiri.

Selama ini ada sebuah pandangan yang menyebutkan bahwa Komunitas Blockchain tidak membutuhkan dana dari perusahaan sebagai klien yang membutuhkan jasa teknologi blockchain tersebut. Bahkan lebih jauh terkesan adanya missed communication atau salah pengertian. Karena komunitas (blockchain) ini merasa mereka sudah mendapatkan dana dari crowdfunding (penghimpunan dana dalam komunitas itu sendiri).

Dalam pandangannya sebagai seorang pengamat Teknologi Blockchain, Pandu Sastrowardoyo menjelaskan bahwa hal ini bisa terjadi karena adanya perbedaan budaya dalam sudut pandang masing-masing pihak, baik perusahaan maupun komunitas blockchain itu sendiri.

“Ada semacam krisis kepemimpinan didalam komunitas blockchain. Dari komunitas blockchain krisis kepemimpinan muncul akibat kurangnya leadership yang profesional dalam merangkul perusahaan-perusahaan,” jelas Pandu.

“Ada sebuah kasus dimana perusahaan-perusahaan masuk dalam diskusi komunitas blockchain, namun yang timbul justru intimidasi atau pem-bully-an (bullying),” tambah Pandu menjelaskan.

Lantas bagaimana solusi untuk mengatasi masalah ini? Lebih jauh lagi Pandu mencoba menjabarkan bahwa sebuah solusi yang kemungkinan bisa diambil adalah langkah awal dengan membuat atau membangun budaya sebagai konsultan. Budaya dari sebuah komunitas untuk menolong perusahaan yang mau ataupun ingin mendapatkan teknologi blockchain dari pihak komunitas (blockchain) tersebut.

“Pada saat sebuah perusahaan masuk kedalam komunitas untuk mencari tahu tentang blockchain, maka pihak komunitas harus segera dapat membantu, bukannya malah mendiskriminasinya,” kata Pandu.

“Kemudian dari pihak perusahaan juga harus mengerti posisi dari komunitas blockchain tersebut. Utamanya adalah mengetahui mengenai sejauh mana teknologi blockchain bisa membantu usaha mereka. Ini menyangkut pihak eksekutif perusahaan, management level, dan personel IT dari perusahaan tersebut. Saya kira seperti itulah yang seharusnya terjadi,” tutup Pandu.

 

 

Penulis: Iwan
Editor:Ganest

Artikel Terkait

Baca Lainnya

1510570014jakartahujan.jpg
NASIONAL
Ada Pohon Tumbang, Sejumlah Perjalanan KRL Tertahan
Senin, 13 November 2017 17:46:54

1510683760jokowi-ktt-asean.jpg
INTERNASIONAL
1510741966Foto-1.jpg
EKBIS
Net1 Indonesia Ambil Bagian Dari MUBA Bergerak
Rabu, 15 November 2017 17:32:46

1510744254Robert-Mugabe.jpg
INTERNASIONAL
Militer Zimbabwe Kudeta Presiden Mugabe
Rabu, 15 November 2017 18:10:54

Berita Terpopuler