DPS SERI KE-13: Dibanding Teroris, Dampak Narkoba Jauh Lebih Besar Terhadap Ketahanan Bangsa dan NKRI

DPS SERI KE-13: Dibanding Teroris, Dampak Narkoba Jauh Lebih Besar Terhadap Ketahanan Bangsa dan NKRI

Diskusi bersama DPS seri ke-13 dengan tema "Bahaya Narkoba dan Teroris terhadap Ketahanan Bangsa".

JAKARTAINSIGHT.com | Selepas libur Ramadhan dan Lebaran, Sabtu (07/07/2018) Panitia Bersama Diskusi Panel Serial 2017-2018, menyelenggarakan acara lanjutan Diskusi Panel Serial (DPS) dengan tema ATHG DARI DALAM NEGERI (Keamanan Dalam Negeri). Hadir sebagai narasumber dalam DPS Seri ke-13 ini, adalah: Prof. Dr. Ir. Bambang Wibawarta, Prof. Dr. Irfan Idris, MA, dan Brigjen Pol Drs Antoni Hutabarat. Selain itu hadir pula Ketua FKPPI sekaligus Ketua Aliansi Kebangsaan, dan Pembina YSNB Pontjo Sutowo, serta Ketua Panitia Bersama DPS Iman Sunario, dan Prof. Dr. La Ode Kamaludin yang bertindak sebagai moderator DPS. 

 

Sebagai pengingat bahwa pada DPS Seri ke-12 yang lalu tema yang diangkat dalam DPS adalah “Peran Agama Dalam Mendorong Kemajuan Industri”, maka kali ini tema yang diangkat adalah “Peran Besar Teroris dan Narkoba sebagai ATHG Terhadap Ketahanan Bangsa dan NKRI”.

 

Dalam sambutan pembukaannya Pontjo Sutowo, selaku Ketua Dewan Pembina YSNB sekaligus Ketua Umum FKPPI dan Aliansi Kebangsaan menjelaskan bahwa proses pembentukan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak serta merta hadir. Ada 4 gelombang dalam proses integrasi. Gelombang pertama, pulau Sumatera, Jawa, Madura, dan Bali yang secara detail fakto berada di bawah kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia pada saat proklamasi dikumandangkan. Gelombang kedua, wilayah Indonesia Timur kecuali Irian Barat yang baru bergabung tahun 1949 selepas KMB. Gelombang ketiga, Irian Jaya atau Papua yang bergabung pada tahun 1963 dan secara de jure tahun 1969. Gelombang keempat Timor-Timur tahun 1975.

 

Selepas proses pembentukan tersebut, ternyata tidak serta merta mereka dapat berdampingan tanpa konflik. Bahkan Timor-Timur pada tahun 1999 dicatat memerdekakan diri dari Indonesia, yang menyebabkan keamanan dalam negeri terganggu. Pemerdekaan diri tersebut merupakan puncak konflik yang ada. 

 

Lebih jauh menurut Pontjo Sutowo, konflik yang ada di Indonesia diantaranya berlatar belakang ideologi dan ketidakpuasan terhadap kebijakan pusat. Untuk mengatasinya maka Indonesia perlu merumuskan secara baku Pancasila sebagai Dasar dan Ideologi Negara, baik pada tataran ontologi, epistemologi, maupun aksiologi. Selain itu juga meninggalkan pendekatan tangan besi. Hal ini karena pendekatan ini hanya efektif dalam jangka pendek.

 

"Untuk mengatasi konflik yang ada, kita harus bijaksana, cerdas, dan waspada. Perlu dicari segera format pencegahan dan penangkalannya dengan melibatkan masyarakat luas", kata Pontjo Sutowo. 

 

Prof. Dr.  Bambang Wibawarta selaku salah satu dari narasumber DPS mengatakan, secara umum konflik terjadi akibat situasi dimana keinginan atau kehendak yang berbeda atau berlawanan antara satu dengan yang lain, sehingga salah satu atau keduanya saling terganggu. Dan akar konflik yang ada di Indonesia bahkan di dunia adalah modernitas atau individual, kemarahan, dan keserakahan manusia. Berdasarkan sumber konflik merujuk pada ketentuan dalam UU No. 7/2012 pada data tahun 2013-2015 dari 201 kasus konflik yang ada di Indonesia, terdapat 159 kasus konflik karena ideologi, politik, ekonomi dan sosial budaya, 9 kasus konflik karena SARA, dan 33 kasus konflik karena SDA atau lahan. 

 

Konflik tersebut juga dapat terjadi karena faktor luar negeri. Konflik dari luar negeri terjadi dari imbas krisis energi, food, water, dan enviromental. 

 

"Untuk mengatasi konflik yang ada harus dilakukan secara bersama, dan diperlukan langkah-langkah koordinatif dan kemitraan yang integratif, dengan suatu kerangka kebijakan strategis dalam pencegahan konflik/separatis dan harmonisasi masyarakat. Radikalisme, dan Terorisme sebagai penyebab utama konflik sebaiknya juga didefinisikan secara benar, agar tidak terjadi ketakutan anak bangsa dalam melakukan perubahan secara masif ke arah yang  baik", kata Bambang Wibawarta. 

 

Dalam kesempatan  yang sama, pembicara kedua Prof. Dr. Irfan Idris MA selaku Direktur Deradikalisasi BNPT menyatakan jika terorisme yang berawal dari radikalisme menyebabkan dampak serius kepada ketahanan negara, karena ia dapat merusak sendi keamanan negara serta ekonomi nasional sebagai misalnya.

 

"Deradikalisasi khususnya dalam pendekatan lunak harus dilakukan secara bijaksana. Seperti misalnya deradikalisasi dalam rangka reintegrasi. Sebagai contohnya, dengan mewartakan Indonesia menjadi negara yang menerapkan syariat Islam, bukan bukan negara yang memformalkan syariat Islam, karena syariat Islam bukan cover tetapi substansi yang memanusiakan manusia", sambung Irfan Idris. 

 

Tak kalah menarik, Brigjen. Pol. Antonius Hutabarat dari BNN, menjelaskan bahwa “Narkoba” adalah unsur-unsur yang dapat melemahkan ketahanan nasional selain korupsi dan terorisme. Dan masalah narkoba lebih serius dari korupsi dan terorisme, karena narkoba merusak otak yang tidak memiliki jaminan sembuh. Setiap hari juga setiap 30 orang meninggal karena narkoba setiap harinya. 

 

Di Indonesia banyak kreasi terhadap narkoba yang tidak ada di negara lain. Jika di Amerika Serikat, India, dan Kolombia misalnya, jenis narkoba yang ada hanya sekitar 9 buah, namun di Indonesia terdapat 71 jenis narkoba baru. Narkoba ini memang dibuat untuk mengelabui hukum yang ada di Indonesia. Sebagai akibatnya terdapat 3,3 juta orang yang dicatat menyalahgunakan narkoba di Indonesia. 

 

"Karena itu pemberantasan Narkoba harus lebih terus didukung seluruh anak bangsa. Jika secara ekonomi, kerugian biaya ekonomi akibat narkoba diperkirakan sekitar Rp63,1 triliun di tahun 2014, berapa besar kerugian dari dampak sosial dan sosial dan sebagainya. Dikhawatirkan tanpa dukungan semua pihak, terjadi lost generation dan tidak tercapainya potensi demografi akibat narkoba", kata Antonius Hutabarat.

Penulis: Iwan
Editor:Ganest

Artikel Terkait

Menhan Nyatakan Siap Perang Hadapi OPM
Kamis, 01 Maret 2018 12:56:24

Baca Lainnya

1510570014jakartahujan.jpg
NASIONAL
Ada Pohon Tumbang, Sejumlah Perjalanan KRL Tertahan
Senin, 13 November 2017 17:46:54

1510683760jokowi-ktt-asean.jpg
INTERNASIONAL
1510741966Foto-1.jpg
EKBIS
Net1 Indonesia Ambil Bagian Dari MUBA Bergerak
Rabu, 15 November 2017 17:32:46

1510744254Robert-Mugabe.jpg
INTERNASIONAL
Militer Zimbabwe Kudeta Presiden Mugabe
Rabu, 15 November 2017 18:10:54

Berita Terpopuler

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: op_link/o_detail.php

Line Number: 350

Sumber : Bank BTN

Tabel Pergerakan Dan Fluktuasi Kurs/harga Forex

Tabel dibawah akan menunjukkan berapa selisih dari kurs forex dalam suatu periode tertentu. Yaitu 4 jam, hari, minggu dan bulan. Selisih dihitung dari data terakhir yg diupdate oleh server.

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: op_link/o_detail.php

Line Number: 408

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: op_link/o_detail.php

Line Number: 410

http://www.seputarforex.com