Dokter Kristo: Kelompok Anti Vaksin Jadi Tantangan Dunia Kedokteran

Dokter Kristo: Kelompok Anti Vaksin Jadi Tantangan Dunia Kedokteran

Dokter spesialis penyakit dalam dan vaksinasi, dr. Kristoforus Hendra Djaya, SpPD (Foto: Ganest/Jakarta Insight)

JAKARTAINSIGHT.com | Pada zaman modern saat ini, dimana peradaban juga ikut berkembang dan maju. Namun tidak begitu dengan pandangan segelintir masyarakat terhadap vaksin dalam dunia kedokteran di Indonesia dan beberapa Negara lainnya.

Vaksin yang menjadi stigma oleh orang-orang yang memandang berbeda tersebut memunculkan komunitas anti-vaksin. Berbagai alasan dijadikan kampanye, baik di Negara berkembang maupun maju sekalipun.

Berbagai macam latar belakang dikemukakan dengan beragam kepentingan pula. Hal itu menjadi tantangan bagi dunia kedokteran dalam mencapai dunia yang sehat.

Seperti diungkapkan dr. Kristoforus Hendra Djaya, SpPD, ahli penyakit dalam dan vaksinasi serta CEO In Harmony Vaccination, bahwa ada beberapa tantangan harus dihadapi, terutama dari kelompok anti-vaksin, pemikiran skeptis orang-orang, serta mentalitas “wait and see”.

“Tidak akan mungkin di dunia itu orang sepakat akan satu hal, jadi itu (kelompok anti-vaksin) dari dulu sudah ada. Kalau untuk kita sebagai dokter hanya bisa menyuarakan fakta dan pemahaman kepada masyarakat. Kita tidak bisa menentang atau menghukum mereka, kita cuma bisa memberi pehamaman yang benar kepada mereka,” tutur dokter Kristo kepada Jakarta Insight saat ditemui usai menjadi pembicara dalam event Jakarta Marketing Week 2018, Sabtu (5/5).

Seperti diketahui, vaksin sangat penting dalam melindungi tubuh dari berbagai macam penyakit dan virus berbahaya. Meskipun menurut WHO vaksin menjadi pencegah paling ampuh setelah mencuci tangan, tapi sayang, menurut dokter Kristo, kesadaran masyarakat untuk melakukan vaksinasi masih tergolong rendah di Indonesia.

Hal tersebut terlihat saat permintaan vaksin difteri yang meningkat tajam ketika wabah difteri melanda tahun lalu,  namun setelahnya kembali menurun.

“Waktu isu difteri kala itu beberapa bulan permintaan vaksin difteri naik, tapi setelah itu beberapa bulan kemudian turun lagi,” kata dokter Kristo.

Ia menambahkan, saat ini di Indonesia permintaan vaksin paling tinggi atau terbanyak adalah vaksin untuk anak, sedangkan untuk dewasa adalah Hepatitis B.

“Permintaan paling tinggi ya vaksin untuk anak atau bayi, kalau untuk dewasa yang paling tinggi Hepatitis B, karena vaksinnya sudah 20 tahun dan perusahan juga sudah ada yang memberikan vaksin kepada karyawannya, setelah itu ada Influenza,” pungkasnya.

Dokter Kristo menambahkan bahwa di klinik In Harmony Vaccination menyediakan semua jenis vaksin, baik untuk anak maupun dewasa.

Penulis: Ganest
Editor:Ganest

Artikel Terkait

Baca Lainnya

1510570014jakartahujan.jpg
NASIONAL
Ada Pohon Tumbang, Sejumlah Perjalanan KRL Tertahan
Senin, 13 November 2017 17:46:54

1510683760jokowi-ktt-asean.jpg
INTERNASIONAL
1510741966Foto-1.jpg
EKBIS
Net1 Indonesia Ambil Bagian Dari MUBA Bergerak
Rabu, 15 November 2017 17:32:46

1510744254Robert-Mugabe.jpg
INTERNASIONAL
Militer Zimbabwe Kudeta Presiden Mugabe
Rabu, 15 November 2017 18:10:54

Berita Terpopuler