Menuju Revolusi Industri, Pemerintah Wajib Terus Mendukung dan Mendorong Industri Baja Nasional!

Menuju Revolusi Industri, Pemerintah Wajib Terus Mendukung dan Mendorong Industri Baja Nasional!

DPS Seri ke-12, ATHG dalam revolusi industri.

JAKARTAINSIGHT.com | Sektor perindustrian merupakan salah satu sektor yang sangat berperan dalam inovasi tentang kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Karena melalui industri inilah dunia usaha berawal dan jadi penggerak bagi suatu bangsa menjadi maju.

Dalam rangkaian Diskusi Panel Serial 2017-2018 pada seri ke-12 ini, Diskusi Panel Serial (DPS) kali ini mengangkat tema ATHG DARI DALAM NEGERI (IPTEK dan Industri). Hadir sebagai narasumber dalam DPS Seri ke-12 ini, adalah: Prof. Dr. Ir. Bambang Subiyanto, M.Agr dan Mas Wigrantoro Roes Setiyadi.b Selain itu hadir pula Ketua FKPPI sekaligus Ketua Aliansi Kebangsaan, dan Pembina YSNB Pontjo Sutowo, serta Ketua Panitia Bersama DPS Iman Sunario, dan Prof. Dr. La Ode Kamaludin yang bertindak sebagai moderator DPS. 

Industri adalah sarana bagi perkembangan dan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi oleh dunia usaha untuk mengolah bahan mentah menjadi barang jadi atau barang setengah jadi. Semua ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Di dunia ini, pengembangan Industri semakin besar dan maju dengan pesat selepas revolusi industri di dunia Barat.

Menurut Pontjo Sutowo, sebagaimana di dunia Barat, ternyata tradisi keagamaan juga dapat menjadi salah satu faktor pendorong kemajuan industri. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kemajuan industri China pada tahun-tahun terakhir ini yang ternyata juga mengembangkan kombinasi antara etika Konfusian yang merupakan sumber nilai dasar masyarakat China dengan semangat kapitalisme dan komunisme dalam bentuk baru yang tercerahkan. Konsep tersebut kiranya dapat diterapkan di Indonesia karena agama Islam dianut sebagian besar bangsa Indonesia yang bersahabat dengan dunia perdagangan dan teknologi, sehingga Indonesia dapat menapaki jalan revolusi industrinya seperti China.

Namun demikian untuk menapak ke jalan revolusi industri, pembangunan industri yang terkait dengan dunia inovasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi ini tidak dapat dilakukan dengan pendekatan sektoral saja. 

"Yang tidak boleh dilupakan dalam pengembangan industri dan teknologi guna dalam menapaki revolusi industri adalah diperlukannya dunia usaha. Dunia usaha ini perlu memiliki sentuhan keindonesiaan yang mengedepankan kebersamaan atau gotong royong. Ia tidak boleh saling dihadap-hadapkan satu sama lain, melainkan perlu diintegrasikan secara nasional demi mencapai tujuan bersama", kata Pontjo Sutowo.

Dalam pemaparannya, Bambang Subiyanto mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan teknologi dan industrinya. Hal ini karena Indonesia tidak ketinggalan dalam capaian publikasi ilmiah dan sitasi. Jumlah publikasi LIPI sejak Januari-November 2017 misalnya, dicatat sebanyak 1.535 publikasi baik nasional maupun internasional dengan porsi 40%, di mana diantaranya merupakan publikasi internasional dengan kualitas terbaik. Jumlah sitasi atas publikasi dari peneliti/sivitas LIPI per 30 November 2017 mencapai 161.409 sitasi. 

Namun demikian hal itu belum cukup jika untuk menempuh jalur industri itu sendiri. 

"Untuk menempuh jalur industri, Indonesia perlu memperkuat terus R&D agar menghasilkan teknologi sendiri. Selain itu juga memberikan perlindungan atau insentif pada pihak yang memanfaatkan teknologi baru hasil negeri sendiri, dan menyediakan infrastruktur atau sarana untuk menguji teknologi baru, untuk interaksi dan sekaligus alih teknologi", kata Bambang Subiyanto.

Di tempat yang sama, Mas Wigrantoro Roes Setiyadi mengatakan jika revolusi industri secara teknis dimulai dari adanya revolusi industri baja. Karena itu jika Indonesia ingin masuk ke revolusi industri,  Indonesia perlu mengelola industri bajanya dengan sungguh-sungguh agar mampu terbangun kedaulatan industri nasionalnya. Terlebih, sumber daya mineral bijih besi dan tembaga Indonesia juga melimpah.

Sayangnya pengembangan industri baja di Indonesia belum maksimal. Sebagai akibatnya Indonesia importer baja terbesar ketiga dunia (10,9 juta ton), dibawah EU (11,8 juta ton), dan AS (21,1 juta ton). Sementara itu sebagai eksportir baja utama dunia adalah China (94,6 juta ton), Jepang (34,5 juta ton), Rusia (26,7 juta ton), serta Brazil (11,6 juta ton). Sekalipun sebagai salah satu importer ternyata kebutuhan konsumsi baja Indonesia masih yang terendah diantara Malaysia (336 kg perkapita) dan Thailand (258 kg perkapita), sedangkan Indonesia hanya sebesar 51 kg perkapita.

“Kenyataan ini menunjukkan bahwa sebenarnya kebutuhan baja Indonesia sangatlah besar, sehingga industri baja perlu terus mendapat dukungan dan dorongan ke depannya. Karena industri baja merupakan ibu industri dalam peran pembangunan dan kekuatan industri nasional,” kata Mas Wigrantoro.

Penulis: Iwan
Editor:Ganest

Artikel Terkait

Menhan Nyatakan Siap Perang Hadapi OPM
Kamis, 01 Maret 2018 12:56:24

Baca Lainnya

1510570014jakartahujan.jpg
NASIONAL
Ada Pohon Tumbang, Sejumlah Perjalanan KRL Tertahan
Senin, 13 November 2017 17:46:54

1510683760jokowi-ktt-asean.jpg
INTERNASIONAL
1510741966Foto-1.jpg
EKBIS
Net1 Indonesia Ambil Bagian Dari MUBA Bergerak
Rabu, 15 November 2017 17:32:46

1510744254Robert-Mugabe.jpg
INTERNASIONAL
Militer Zimbabwe Kudeta Presiden Mugabe
Rabu, 15 November 2017 18:10:54

Berita Terpopuler