Polri Jelaskan Langkah Penelusuran Grup WA Terkait Hoax

Polri Jelaskan Langkah Penelusuran Grup WA Terkait Hoax

Divisi Humas Polri jelaskan penanganan hoax. (istimewa)

JAKARTAINSIGHT.com | Patroli siber terus menggalakkan dan menindak lanjuti tugasnya menelusuri maraknya penyebarab hoax atau kabar bohong. Hal ini ditegaskan langsung oleh Kabiro Penmas Divisi Humas Polri, Bigjen Dedi Prasetyo. Dedi juga menegaskan, siapa saja yang terbukti menyebar hoax dan ujaran kebencian, bisa dijerat pidana.

Selain Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, tindakan ini juga dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

"Kegiatan patroli siber itu mencakup dua hal yang akan dilakukan, pertama adalah pencegahan atau mitigasi terhadap akun-akun yang menyebarkan konten-konten hoax, kemudian ujaran kebencian, kemudian provokatif, dan berbau SARA," kata Dedi di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan.

Bahkan Polri juga bisa sampai menelusuri grup WhatsApp (WA). Namun Dedi mengatakan, Polri tentu tidak sembarangan menelurusi grup WA, melainkan ada dasar yang kuat. Pertama, Polri dan Kominfo melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat agar tidak menyebar hoax dan ujaran kebencian. Kemudian, jika ada yang melanggar, penegakan hukum akan dilakukan.

"Dari media sosial itu rekam jejaknya itu nanti akan digali oleh penyidik melalui Laboratorium Forensik Digital. Pelaku atau pengguna medsos menyebarkan konten-konten hoax itu dengan menggunakan alat apa? Handphone misalnya, atau PC, komputer, dan lainnya. Inilah yang akan  kami telusuri," jelas Dedi.

Apabila diketahui atau didapati ada seorang tersangka yang menyebarkan konten berisi hoax dan ujaran kebencian menggunakan handphone, maka handphone itu akan didalami di Laboratorium Forensik Digital. Dari situ, Polri bisa mencari tahu seperti apa rangkaian atau jejaring penyebaran hoax atau ujaran kebencian tersebut. 

Bila ditemukan berita hoax tersebut disebar tersangka melalui media sosial, maka grup WA inilah yang akan kami pantau selanjutnya. Dedi meluruskan bahwa bukan seluruh grup WA akan dipantau Polri, melainkan yang terkait dengan kasus hukum. 

"Jadi nggak ada kita melaksanakan kegiatan patroli WA. Kalau kita melaksanakan patroli WA, nggak mungkin juga. Nggak mungkin juga kita cukup tenaga, cukup teknologi untuk memantau seluruh WA yang dimiliki oleh hampir 150 juta manusia Indonesia yang menggunakan alat komunikasi berupa handphone. Itu 150 juta (orang). Tapi pengguna handphone aktif sekarang ini sudah 330 juta manusia di Indonesia. Artinya satu orang bisa memiliki lebih dari 1 atau 2 handphone. Itu mustahil untuk kami lakukan," sambungnya.

Terkait isu bahwa Polri akan memantau seluruh grup WA, Dedi mengklarifikasi bahwa itu tidak benar. Grup WA yang dipantau dan ditelusuri hanya apabila sudah didapat indikasi terkait dengan orang yang sudah menjadi tersangka penyebaran hoax dan ujaran kebencian. 

Penulis: Iwan
Editor:Mika Syagi

Artikel Terkait

Baca Lainnya

1510570014jakartahujan.jpg
NASIONAL
Ada Pohon Tumbang, Sejumlah Perjalanan KRL Tertahan
Senin, 13 November 2017 17:46:54

1510683760jokowi-ktt-asean.jpg
INTERNASIONAL
1510741966Foto-1.jpg
EKBIS
Net1 Indonesia Ambil Bagian Dari MUBA Bergerak
Rabu, 15 November 2017 17:32:46

1510744254Robert-Mugabe.jpg
INTERNASIONAL
Militer Zimbabwe Kudeta Presiden Mugabe
Rabu, 15 November 2017 18:10:54

Berita Terpopuler
$(window).scroll(function() { var header = $("bg-top-static"); var scroll = $(window).scrollTop(); if (scroll <= 25) { $(".top-navigasi ul").css("text-align","left"); $(".top-navigasi ul").css("padding-right","0px"); $(".left-banner-to-top").css("top","150px"); $(".right-banner-to-top").css("top","150px"); } if (scroll >= 25) { header.addClass("relstatic-fixed"); $(".top-navigasi ul").css("text-align","center"); $(".top-navigasi ul").css("padding-right","78px"); $(".relstatic").addClass("relstatic-fixed"); $(".left-banner").addClass("left-banner-to-top"); $(".right-banner").addClass("right-banner-to-top"); $(".left-banner-to-top").css("top","0px"); $(".right-banner-to-top").css("top","0px"); } else { header.removeClass("relstatic-fixed"); $(".relstatic").removeClass("relstatic-fixed"); $(".left-banner").removeClass("left-banner-to-top"); $(".right-banner").removeClass("right-banner-to-top"); } if (scroll >= 2000) { console.log(scroll); $(".left-banner-to-top").css("top","-110px"); $(".right-banner-to-top").css("top","-110px"); } });