Mantan Presiden Peru Tembak Kepalanya Saat Akan Ditangkap Polisi

Mantan Presiden Peru Tembak Kepalanya Saat Akan Ditangkap Polisi

Mantan presiden Peru Alan García tiba di kantor penuntutan nasional untuk bersaksi dalam kasus Odebrecht di Lima pada 16 Februari 2017. Foto: Guadalupe Pardo / Reuters

JAKARTAINSIGHT.com | Mantan presiden Peru Alan García tewas setelah sengaja menembak kepalanya ketika polisi mencoba menangkapnya sehubungan dengan skandal korupsi Amerika Latin bernilai miliaran dolar.

"Saya sedih dengan kematian mantan presiden Alan García," tweet Presiden Peru saat ini, Martín Vizcarra, membenarkan berita tersebut. "Saya mengirimkan belasungkawa kepada keluarganya dan orang-orang terkasih."

Sebelumnya, pengacara García, Erasmo Reyna, mengatakan kepada media lokal kliennya "mengambil keputusan untuk menembak dirinya sendiri" pada hari Rabu pagi setelah petugas tiba di rumahnya di ibukota, Lima, untuk menempatkannya di bawah penahanan preventif.

Menteri dalam negeri Peru, Carlos Morán, mengatakan kepada wartawan, García telah mengatakan kepada petugas polisi bahwa dia akan memanggil pengacaranya dan "menutup diri di kamarnya" sebelum sebuah tembakan terdengar.

Politisi berusia 69 tahun yang menghadapi tuduhan menerima suap dari raksasa konstruksi Brasil Odebrecht selama masa kepresidenannya 2006-2011 itu dirawat di rumah sakit terdekat dengan segera, sekitar pukul 6.45 pagi akibat menderita luka tembak di kepala.

Sebelum kematiannya dikonfirmasi menteri kesehatan Peru, Zulema Tomás, mengatakan kepada wartawan García dalam kondisi "sangat serius" dan telah menderita tiga serangan jantung yang darinya ia telah diresusitasi.

Sebuah tim medis yang beranggotakan 27 orang, termasuk ahli bedah saraf dan spesialis perawatan intensif, berjuang untuk menyelamatkan nyawa mantan presiden itu.

“Ini adalah hari kesedihan nasional,” Alberto Quintanilla, seorang anggota kongres sayap kiri, mengatakan kepada televisi lokal setelah konfirmasi kematian García.

“Peru sedang berduka. Sistem politik kami sedang berkabung dan kami mengekspresikan solidaritas dengan keluarga. Apa yang terjadi sangat disesalkan," tambahnya.

García adalah satu dari empat mantan Presiden Peru yang tersedot ke dalam skandal besar Odebrecht, di mana suap jutaan dolar dibayarkan untuk mengamankan kontrak konstruksi di seluruh wilayah bersama Pedro Pablo Kuczynski, Ollanta Humala dan Alejandro Toledo.

Pekan lalu, seorang hakim memerintahkan agar Kuczynski ditempatkan di bawah pengawasan preventif selama 10 hari sebagai bagian dari penyelidikan pencucian uang.

Dikenal sebagai PPK, Kuczynski memimpin Peru dari 2016 hingga dia mengundurkan diri Maret lalu sebelum langkah kongres untuk memakzulkan dia atas hubungan ke Odebrecht.

García menjabat dua periode sebagai presiden dari 1985 hingga 1990 dan kemudian 2006 dan 2011, ia merupakan salah satu politisi paling terkemuka di Peru.

Dia menolak klaim kesalahan, mnggambarkan dirinya sebagai korban penganiayaan politik. Tahun lalu ia gagal meminta suaka politik di Uruguay setelah mencari perlindungan di kedutaan besarnya di Lima.

"Saya tidak pernah menjual diri saya dan ini telah ditunjukkan," tulis García pada hari Selasa.

Upaya untuk menangkap García datang hanya beberapa hari setelah penyelidikan mengungkapkan sekretaris pribadinya, Luis Nava, diduga menerima $ 4 juta dari departemen suap di luar buku Odebrecht.

Dalam sebuah wawancara pada hari Selasa, García mengatakan bahwa ia "dengan tegas" menolak tuduhan terhadapnya yang ia sebut sebagai "spekulasi" dan "pembunuhan moral".

Sekutu politik dari partai García yang dulunya sangat kuat, Apra, menyatakan kaget dan marah atas kematiannya yang dramatis.

"Pada saat yang sangat menyakitkan ini kita harus menegaskan kembali persatuan dan persaudaraan kita," tweet anggota kongres Jorge del Castillo, menyerukan kepada para pendukung untuk berkumpul di luar markas besar partai pada Rabu malam.

Sekutu lain, Mauricio Mulder, menggambarkan keputusan García untuk mengambil nyawanya sendiri sebagai "tindakan terhormat" yang diambil sebagai tanggapan atas "penganiayaan fasis" dari musuh-musuh politik.

"Presiden García telah mengambil keputusan orang bebas," untuk menghindari penghinaan oleh mereka yang bermaksud menggunakan dia sebagai "piala" politik, kata Mulder.

 

Sumber: The Guardian

Penulis: Bintang adiguna
Editor:Ganest

Artikel Terkait

Baca Lainnya

1510570014jakartahujan.jpg
NASIONAL
Ada Pohon Tumbang, Sejumlah Perjalanan KRL Tertahan
Senin, 13 November 2017 17:46:54

1510683760jokowi-ktt-asean.jpg
INTERNASIONAL
1510741966Foto-1.jpg
EKBIS
Net1 Indonesia Ambil Bagian Dari MUBA Bergerak
Rabu, 15 November 2017 17:32:46

1510744254Robert-Mugabe.jpg
INTERNASIONAL
Militer Zimbabwe Kudeta Presiden Mugabe
Rabu, 15 November 2017 18:10:54

Berita Terpopuler